Sabtu, 14 September 2013

Bagaimanakah Sejarah Perkembangn Manusia???

Sejarah eksplorasi

Ketika aktif melakukan eksplorasi pada akhir abad ke-19, Eugene Dubois pernah melakukan penelitian di sini, namun tidak terlalu intensif karena kemudian ia memusatkan aktivitas di kawasan Trinil, Ngawi.
Sejak tahun 1934, ahli antropologi Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald memulai penelitian di area tersebut, setelah mencermati laporan-laporan berbagai penemuan balung buta ("tulang buta/raksasa") oleh warga dan diperdagangkan. Saat itu perdagangan fosil mulai ramai akibat penemuan tengkorak dan tulang paha Pithecanthropus erectus ("Manusia Jawa") oleh Eugene Dubois di Trinil, Ngawi, tahun 1891. Trinil sendiri juga terletak di lembah Bengawan Solo, kira-kira 40 km timur Sangiran.
Dengan dibantu oleh Toto Marsono, pemuda yang kelak menjadi lurah Desa Krikilan, setiap hari von Koenigswald meminta penduduk untuk mencari balung buta, yang kemudian ia bayar. Pada tahun-tahun berikutnya, hasil penggalian menemukan berbagai fosil Homo erectus lainnya. Ada sekitar 60 lebih fosil H. erectus atau hominid lainnya dengan variasi yang besar, termasuk seri Meganthropus palaeojavanicus, telah ditemukan di situs tersebut dan kawasan sekitarnya.
Selain manusia purba, ditemukan pula berbagai fosil tulang-belulang hewan-hewan bertulang belakang (Vertebrata), seperti buaya (kelompok gavial dan Crocodilus), Hippopotamus (kuda nil), berbagai rusa, harimau purba, dan gajah purba (stegodon dan gajah moderen).
Penggalian oleh tim von Koenigswald berakhir 1941. Koleksi-koleksinya sebagian disimpan di bangunan yang didirikannya bersama Toto Marsono di Sangiran, yang kelak menjadi Museum Purbakala Sangiran, tetapi koleksi-koleksi pentingnya dikirim ke kawannya di Jerman, Franz Weidenreich.

Geologi kawasan

Pada awalnya penelitian Sangiran adalah sebuah kubah yang dinamakan Kubah Sangiran. Puncak kubah ini kemudian terbuka melalui proses erosi sehingga membentuk depresi. Pada depresi itulah dapat ditemukan lapisan tanah yang mengandung informasi tentang kehidupan pada masa lampau. Sangiran mencakup beberapa lapisan tanah/formasi tanah. Yang tertua adalah formasi "kalibeng" formasi ini diperkirakan berumur 3 juta - 1,8 juta tahun yang lalu. Pada formasi ini terdiri atas 4 lapisan yaitu lapisan bawah merupakan endapan laut dalam dengan ketebalan lapisan ini 107 meter

Jumat, 13 September 2013

Pendudukan Jepang di Indonesia



PENDUDUKA N JEPANG DI INDONESIA


1.Kedatangan Jepang di Indonesia
Jepang mendarat di Indonesia pada 1 maret 1942.Jenderal Imamura memimpin pasukannya yang mendarat di tiga tempat yaitu Indramayu,Banten, dan Bojonegoro.Pada 8 maret jepang berhasil menaklukan pendudukan Belanda di Indonesia.Hal itu di buktikan dengan penyerahan tanpa syarat kepada Jepang di Kalijati,Subang.
            Setalah menguasai Indonesia, Jepang membagi wilayah Indonesia menjadi 3 yaitu :
·         Wilayah I,terdiri dari Jawa dan Madura yang berpusat di Jakarta
·         Wilayah II,yaitu Sumatra yang berpusat di Bulittinggi
·         Wilayah III,terdiri dari Kalimantan,Sulawesi,Maluku,Bali, dan Nusa Tengara yang berpusat di Makassar
2.Pengaruh Pendudukan Jepang di Indonesia
            a.Kondisi Sosial
§  Romusha
Romusha adalah orang-orang Indonesia yang dipekerjakan secara paksa pada masa penjajahan Jepang di Indonesia.Mereka dipekerjakan untuk membuat sarana pertahanan,seperti,gua-gua,gudang bawah tanah,lapangan udara darurat,jalan-jalan dsb.
§  Pembentukan Organisasi Semi mliter dan Militer
1.Seinendan (Barisan Pemuda)
2.Fujinkai (Barisan Wanita)
3.Keibodan (Barisan Pembantu Polisi)
4.Syuisintai (Barisan Pelopor)
Jepang juga membuat organisasi yang diberi materi militer ,seperti Heiho (Barisan Pembantu Prajurit Jepang) dan Peta (Pembela Tanah Air).Tugas utama dibentuknya organisasi tersebut adalah untuk mempertahankan Indonesia dari serangan musuh.Hal ini berdampak positf bagi bangsa Indonesia ,karena mulai saat itu bangsa Indonesia mendapat pengetahuan mliter (terutama mengenai strategi perang dan penggunaan persenjataan).